Good Times in High School

Standar

Menurut banyak orang masa-masa SMA itu adalah masa paling indah. Tak dipungkiri banyak dari kita ingin kembali ke masa SMA dahulu. Karena banyak kejadian yang ingin diulangi ketika SMA dulu. Waktu pertama kali saya menjadi siswa SMA, saya sangat bangga dan senang. Bangga karena saya merasa, saya bisa melewati masa-masa sekolah sebelumnya hingga saya duduk di bangku SMA sekarang. Seperti biasa semua siswa termasuk saya merasa sangat bahagia karena ada suasana baru dan teman baru yang bisa kembali kami miliki.Walaupun itu hanya di awal saja.

The First Impression Of The Student Orientation

Hari pertama saya masuk SMA adalah hari Sabtu. Hari itu kami para murid baru dibagikan kelas dan dibagikan peraturan-peraturan untuk MOS (Masa Orientasi Siswa) yang akan dilaksanakan hari Senin sampai Rabu. Kami dikumpulkan di lapangan sekolah, lalu ada seorang guru membacakan nama-nama untuk membagikan kami kelas dan kami akan langsung masuk ke kelas tersebut. Di SMA kelas X terbagi menjadi 8 kelas. Cuaca pada saat itu sangat panas. Jadi kami berharap nama kami tidak ada di kelas terakhir. Nama siswa yang nantinya akan menempati kelas X-1 dibacakan. Tapi, tidak ada nama saya. Saya terus mendengarkan. Lagi, diantara nama yang disebutkan untuk menempati ke kelas X-2 tidak ada nama saya. Saya kembali menunggu sambil mendengarkan. Akhirnya, nama saya disebutkan dan saya langsung ikut masuk ke kelas X-3.

Awal saya masuk kelas, saya bingung saya ingin duduk dengan siapa. Akhirnya, saya duduk dengan teman saya yang bernama Fany. Namun, itu hanya di hari pertama. Karena hari selanjutnya saya duduk dengan Indah dan Fani duduk dengan Lisa. Hari-hari pada MOS kami lalui selama 3 hari. Pada masa-masa MOS, banyak tugas dan peraturan yang harus kami lalui dan kami taati. Mulai dari kami harus meminta tanda tangan para pengurus OSIS, tidak boleh pergi makan di kantin (bawa bekal), memakai nametag dan masih banyak lagi. Seperti kata orang masa MOS adalah kesenangan untuk kakak-kakak OSIS. Yah, walaupun itu ribet bagi kita tapi hal itu merupakan keseruan dan kenangan buat kita yang ingin memulai masa-masa yang baru di SMA. Between want and do not want me to repeat.

Real High School Life at The Start

Hari Kamis setelah MOS berakhir adalah hari pertama kami mengenakan seragam SMA. Saya sangat excited pada saat itu. Selain Fany dan Indah, saya bertemu dengan beberapa teman lagi yaitu Vita, Resti, Shella, Listina, Yunisa, Rafika, Esa dan masih banyak lagi. Tetapi diantara mereka yang saya sebutkan tadi, saya paling dekat dengan Indah, Shella, Vita dan Resti. Yah, jadi kangen deh sama mereka :’). Vita, Indah, Resti dan Shella juga termasuk teman yang pinter loh. Indah ialah teman yang ngajarin saya tentang jejaring sosial seperti friendster dan facebook. Saat diajarkan sama Indah bagaimana cara membuat Friendster merupakan saat dimana pertama kali saya mempunyai jejaring sosial. Bangga dan seneng banget deh punya temen seperti mereka.

Banyak banget rasa di kelas X-3 itu dari senang, sedih dan semacamnya. Karena pada saat itu kami masih kelas X, kami masih patuh-patuh saja kepada peraturan sekolah. Masih takut-takut dengan senior, masih rajin mengerjakan tugas/PR, masih baik-baik deh. Semakin lama, kami sekelas pun menjadi semakin dekat. Walaupun kami sekelas semakin dekat, namun tidak sedikit konflik yang muncul diantara kami. Konflik karena masalah percintaan, konflik karena kesalah pahaman, konflik karena keegoisan, dan lain-lain. Namun, karena kami menyadari bahwa kami sekarang sudah dewasa jadi masalah itu dengan segera kami selesaikan dengan baik-baik.

Leader of Team

Di kelas X, ada mata pelajaran kesenian yang mewajibkan setiap kelas membuat sebuah pertunjukan di akhir semester genap. Kelas saya mengambil tema tentang kerajaan. Saya lupa namanya, yang pasti maksud dari tema tersebut adalah Kastil Sepuluh Tiga. Namanya kastil sudah pasti tentang kerajaan. Sesaat setelah pengumuman tugas tersebut diberikan kami sekelas pun langsung memikirkan pembagian tugas untuk acara yang akan kami buat. Di dalam penyusunan sebuah acara pasti harus ditunjuk seorang leader beserta jajarannya. Sang leader dipilih berdasarkan voting satu kelas. Dan terpilihlah Arlin sebagai leader. Dan selanjutnya dipilihlah jajaran-jajarannya untuk mendampingi Arlin dalam tim. Kebetulan saya ditunjuk untuk menjadi seksi konsumsi.

Mata pelajaran kesenian memberikan kami tugas untuk membuat pertunjukan tersebut, selain hal-hal yang berhubungan dengan kesenian (Musik/Drama) tetapi menguji dan melatih kekompakan kami dalam bekerja tim. Maka dari itu, ketika dosen mata kuliah softskill saya sekarang mengatakan mata kuliah softskill juga melatih kekompakan kalian dalam bekerja tim saya langsung teringat masa-masa dimana saya dan teman-teman saya sekelas dulu bekerja berusaha menumbuhkan rasa kekompakan diantara kami untuk mencapai sebuah hasil yang maksimal.

Efforts and Work Hard

Zaman sekarang uang adalah segala-galanya. Maka dari itu untuk membuat acara tersebut kami sangat membutuhkan uang. Untuk mendapatkan uang, sang leader menyarankan untuk sekelas patungan. Tapi, uang patungan tetap belum cukup karena jajan anak SMA kelas X kan hitungannya masih sedikit. Apalagi karena tema kita agak mewah dan kita membutuhkan banyak uang. Akhirnya, kami memutuskan untuk berjualan snack disekolah untuk menambah modal kita. Mungkin dari situ kita juga bisa belajar cara berbisnis. Berjualan tersebut dilaksanakan oleh sebagian teman-teman saya dan sebagian teman saya lainnya membuat background untuk pertunjukan bahkan hingga larut malam. Kami terus berusaha dan bekerja keras. Jadi bisnis dan tugas utama akhirnya berjalan dengan lancar. Dan uang akhirnya terkumpul.

Problem ? Here is The Problem

Seperti biasa perasaan senang selalu menghampiri kami di awal. Di awal bekerja tim, kami masih senang, masih rajin untuk melakukan ini itu. Tetapi, hanya selang beberapa hari kemudian sudah sebagian orang jenuh melakukan pekerjaan ini termasuk saya. Karena menurut saya tugas ini hanya membuat saya mengabaikan tugas dan pelajaran di mata pelajaran lainnya. Karena bukan berarti kami mendapat tugas ini semua mata pelajaran kecuali kesenian dihilangkan.

Kekompakan kami pun penuh cobaan. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, beberapa orang termasuk saya sudah jenuh melakukan ini semua. Keegoisan dan kesalah pahaman anggota tim juga merupakan alasan beberapa orang jenuh. Sehingga tak jarang kami ribut karena masalah tersebut, hingga bertambahlah anggota yang menjadi jenuh. Saya pun pernah merasakannya. Saya bertengkar dengan Indah dan Fany karena sebuah kesalah pahaman. Saya sangat sedih pada saat itu, Indah merupakan salah satu teman dekat saya. Namun, kami bertiga segera menyelesaikan masalah tersebut dan berbaikan.

Day Has Arrived

Hari untuk kita melakukan pertunjukan pun tiba. Setelah banyak waktu yang kami lalui bersama. Pertunjukan berlangsung dengan lancar. Kami sangat senang melihat ekspresi puas dari guru pembimbing kami dan para penonton lainnya. Dan akhirnya diumumkan bahwa pertunjukan kelas kami termasuk pertunjukan yang terbaik. Banyak hal yang kami rasakan saat itu. Terharu, senang, sedih, bangga dan macamnya. Karena kami merasa usaha yang kami lakukan untuk memberikan hasil yang maksimal tidak sia-sia.

Would always be together ?

Setelah banyak hal kami lalui di kelas X, tiba waktunya kami harus berpisah kelas. Kelas dua terbagi menjadi IPA/IPS. Jadi, kelas dibagikan sesuai kemampuan yang masing-masing miliki. Kami pun terpisah. Dari kelas saya, kebanyakan teman-teman saya masuk kelas XI jurusan IPA. Hanya beberapa orang yang masuk jurusan IPS. Saya sangat senang pada saat itu karena saya masuk jurusan IPS, karena menurut saya anak IPA itu kehidupannya tidak menyenangkan. Namun tetap dibalik kesenangan saya itu ada sedikit rasa sedih dalam diri saya karena saya tidak bisa masuk IPA seperti yang diinginkan orang tua saya pada saat itu.

Kelas XI terpisah dari Resti, Vita dan Indah. Karena mereka semua masuk IPA. Diantara kami berlima, hanya saya dan Shella yang masuk IPS. Tapi tetap saya dan Shella tidak sekelas. Hubungan pertemanan saya, Indah, Vita, Shella dan Resti pun agak merenggang. Karena kesibukan kita masing-masing dan tidak menampik bahwa kami telah punya teman yang baru di kelas masing-masing. Di kelas XI saya semakin dekat dengan Listina dan Yunisa karena mereka berdua juga masuk di jurusan IPS. Padahal sebenarnya Listina dapat jurusan IPA tapi dia memilih pindah karena takut tidak mampu. Mereka berdua, tema sekelas saya juga waktu kelas X, tapi kami tidak terlalu dekat. Walaupun kami tidak sekelas juga tapi kami sangat dekat. Sebenarnya saya agak heran kenapa saya bisa lebih dekat dengan mereka, tetapi hubungan pertemanan saya dengan Shella saat itu merenggang. Saya, Listina dan Yunisa menjadi sangat dekat karena kami juga sering pulang bersama dan kami satu pikiran. Kami kemana-mana bertiga. Ke kantin, pulang, shopping selalu bertiga. Baik buruknya mereka pun saya sudah mengetahuinya. Begitupun mereka yang pastinya telah mengetahui baik buruk dari diri saya. Makanya banyak orang yang bilang kita bertiga adalah soulmate.

Saya masuk kelas XI IPS 1. Disanalah saya bertemu Rosa, Riama, Desi dan Ina. Mereka adalah orang yang sangat dengan saya di kelas itu. Desi adalah orang yang selalu berbeda pendapat dengan saya. Pikiran kami selalu bertentangan. Maka dari itu kami sering saja ribut. Tapi langsung baikan juga. Rosa adalah teman sebangku saya, dia yang selalu memberikan informasi terkini kepada saya. Tentang lagu barat, tentang informasi yang sedang ramai dibicarakan di kalangan pemerintah dan lain-lain. Karena Rosa ini sering banget dengerin radio.  Hingga sekarang walaupun kami sudah terpisah komunikasi kami masih tetap berjalan. Kelas XI adalah masa-masa yang paling santai. Berbeda dengan pada saat saya kelas X, di kelas XI saya mulai menjadi anak yang bisa dibilang nakal. Tidak memikirkan tugas yang semakin hari semakin menumpuk alias ditumpuk dulu sampai jadi gunung dikerjakan di satu hari sebelum tugas tersebut dikumpulkan. Seperti kelas X, di kelas XI banyak sekali rasa dan kejadian yang saya alami.

Salah satunya kejadian sahabat sebangku saya Rosa yang kabur dari rumah karena ingin hidup mandiri dan mencari uang karena keluarganya kurang mampu. Jika saya punya uang pada saat itu sebenarnya saya ingin sekali membantunya. Karena Rosa juga merupakan anak yang pintar. Jadi sayang kalau dia sampai putus sekolah. Itu beberapa motif yang membuat ia kabur dari rumah yang akhirnya dia ceritakan kepada saya setelah dia kembali.

Lalu, kejadian dimana di kelas XI IPS 1, masuk murid baru yang juga merupakan artis yang baru memenangkan ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi ternama di Indonesia. Kelas kami jadi ramai dikunjungi karena ada artis di kelas kami. Tapi murid itu akhirnya pindah karena beberapa alasan yang kami tidak ketahui jelasnya.

Pihak sekolah selalu mengadakan study tour untuk siswa kelas XI seperti  untuk angkatan-angkatan sebelumnya. Akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk mengadakan study tour ke Jogja untuk angkatan kami. Karena beberapa hari sebelum pergi ke Jogja saya sakit yang cukup parah, tidak banyak hal yang bisa saya persiapkan.

Kami satu angkatan (seluruh kelas XI) berangkat ke Jogja untuk study tour selama kurang lebih 1 minggu. Menurut pihak sekolah, angkatan kami termasuk angkatan yang sangat beruntung. Karena kami mendapatkan sesuatu yang sangat berbeda dari angkatan-angkatan sebelumnya. Saya sangat salut untuk panitia study tour angkatan kami. Bukan hanya saya namun teman-teman satu angkatan juga sangat bangga kepada mereka. Kerja tim mereka sangat bagus.

Study tour kami ke Jogja juga menandakan bahwa kami akan menghadapi kenaikan kelas. Kami terus berdoa supaya kami bisa naik ke kelas XII. Karena di sekolah kami pada saat itu sedang ada issue bahwa sebagian dari murid kelas X dan XI akan tinggal kelas. Saya terus berdoa agar saya tidak tinggal kelas dan saya berjanji saya akan lebih rajin di kelas XII nanti. Dan hari pengambilan raport pun datang. Ibu saya mengambilkan raport untuk saya. Dan saya benar-benar takut pada saat itu, saya takut saya termasuk dari daftar murid yang tinggal kelas. Tapi, alhamdulillah saya naik kelas XII. Kelas XI pun berakhir, kami sekelas pun lagi-lagi harus merasakan sebuah perpisahan.

Correct Attitude For The Better

Saya terus menunggu dan yang menjadi pikiran saya adalah siapa yang akan menjadi teman sekelas saya nanti. Karena ini kelas XII, saya membutuhkan teman yang bisa menjadi motivator saya. Di kelas XII saya sudah tidak bisa bermain-main lagi itu hal pertama yang ada di pikiran saya. Saya harus lulus UN dengan nilai berapapun yang penting saya lulus UN. Akhirnya, pembagian kelas dibagikan. Saya sangat senang sekali pada saat itu karena saya mendapat kabar bahwa saya sekelas dengan Listina di kelas XII IPS 3. Yunisa, sahabat kami beda kelas di kelas XII IPS 4. Namun, kami berusaha meminta kepada bagian kesiswaan untuk memindahkan Yunisa ke kelas kami. Dan usaha kami bertiga tidak sia-sia. Kami berhasil dan kami bertiga akhirnya sekelas lagi. Saya berfikir Listina dan Yunisa memang sangat berjodoh, mereka 3 tahun selalu mendapatkan kelas yang sama di kelas XII IPS 3. Dan saya duduk dengan Listina, Yunisa duduk dengan Anisa salah satu teman sekelas mereka juga di kelas XI.

Di kelas XII memang dari sekolah diadakan Pendalaman Materi atau orang-orang biasa menyebuntnya dengan PM. Namun, saya tetap ingin mengikuti bimbel di luar sekolah untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Endrayani yang rumahnya satu daerah dengan saya dan dia juga merupakan teman sekelas saya di kelas XI mengajak saya untuk bimbel bersama di sebuah bimbingan belajar di daerah Pancoran. Endrayani adalah teman sekelas saya waktu kelas XI. Namun di kelas XI kami tidak dekat. Kami dekat saat kami bimbel bersama.

Banyak juga hal yang saya rasakan di kelas XII. Banyak kejadian penting yang tidak pernah dan tidak akan pernah saya lupakan. Dari ribut dalam pembuatan BTS dan ribut karena masalah kecil yang pasti pernah juga dialami oleh beberapa orang. Jadi, waktu pembuatan BTS (Buku Tahunan Sekolah) pihak sekolah memberikan kebebasan kepada setiap kelas untuk memilih tema yang akan dipakai untuk membuat BTS. Lalu kelas kami memilih tema tempo dulu. Namun sebagian orang tidak setuju. Timbullah konflik pro dan kontra. Lalu, masalah cinta dan persahabatan juga ada di kelas XII. Listina sahabat saya, dulu selagi kelas XI dia memiliki seorang teman yang dia anggap sebagai sahabatnya di kelas namanya Meidy. Namun, itu dulu karena sekarang mereka bertengkar karena masalah seorang laki-laki. Dan di kelas XII mereka kembali bertemu dalam satu kelas. Hingga sepanjang kelas XII yang kami lewati mereka bermusuhan dan saling sindir menyindir. Entah apa manfaatnya, tetapi saya selalu berharap mereka kembali menjadi sahabat. Dan juga kisah persahabatan saya, Listina dan Yunisa yang harus bertengkar karena Yunisa marah dengan saya dan Listina karena tidak diantarkan untuk bayaran. Kami bertiga pun bermusuhan. Sebenarnya, saya dan Listina tidak ingin bermusuhan dengan Yunisa. Namun, kami ingin Yunisa belajar hidup mandiri. Masih banyak kejadian yang saya lewati di kelas XII itu. Namun, tetap menurut saya setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Karena tuhan tidak akan memberikan kita cobaan/ujian yang tidak mampu diselesaikan/dikerjakan oleh umat nya.

Pray and Seek

Kami mulai rajin mempersiapkan mental dan fisik untuk menghadapi berbagai macam ujian yang sudah ada di depan mata. Karena kelas saya termasuk kelas unggulan dari kelas yang lain jadi pada guru sangat yakin dengan kemampuan kami dalam menyelesaikan soal-soal ujian dan kami pasti dapat menyelesaikan soal-soal tersebut dengan nilai terbaik. Saya menjadi orang yang semakin sibuk untuk mempersiapkan beberapa ujian.

Hari ujian pun tiba. Kami semua panik, tegang dan sekolah penuh dengan suara murid yang sibuk mencari contekan dan berdoa. Ketegangan pun akhirnya hilang setelah 3/4 hari kami melaksanakan ujian. Bagi saya, ujian saya berjalan sangat lancar. Karena saya bukan hanya berdoa tetapi saya juga berusaha memberikan yang terbaik yang saya miliki. Karena menurut saya berdoa saja itu tidak cukup jika tidak didampingi oleh suatu usaha.

ANNOUNCEMENT

LULUS. Itu yang saya harapkan. Hari itu hari Senin, pengumuman kelulusan hanya bisa dilihat di papan pengumuman sekolah jam 12 Siang. Sebelum hari pengumuman, saya telah mendapat kabar dari teman saya bahwa saya lulus. Saya senang tetepi saya tidak begitu percaya walaupun saya berharap itu benar, karena pengumuman hanya dapat dilihat di papan pengumuman sekolah. Entah kenapa pada hari sebelum pengumuman saya merasa sangat tenang, tidak seperti siswa lainnya yang panik, tegang, penasaran dan bingung. Saya berangkat ke sekolah jam 7 pagi. Menunggu, itu lah hal yang paling saya benci. Namun saya lakukan pada saat itu. Yang sehari sebelumnya saya sangat tenang, tapi hari dimana pengumuman tentang kelulusan benar-benar akan diberikan saya merasa panik. Karena lagi-lagi rumor muncul bahwa ada lebih dari 10 siswa tidak lulus. Saya terus berdoa semoga saya tidak termasuk dalam jajaran nama-nama siswa yang tidak lulus tersebut. Kami satu angkatan seperti segerombolan orang yang mau berunjuk rasa di depan sekolah. Pintu gerbang sekolah masih tertutup rapat untuk siswa kelas XII. Jam 12 pun tiba, dan akhirnya saya mendapatkan hasil yang benar-benar nyata bahwa saya LULUS. Saya sangat bangga dengan diri saya karena saya bisa berhasil lulus. Itulah hari terakhir kami memakai baju seragam SMA. Dan hari itu juga merupakan hari dimana saya, Listina dan Yunisa berbaikan. Antara sedih dan senang kami rasakan. Senang karena kami bisa lulus. Dan Sedih karena kami harus berpisah walaupun di luar sana kami masih bisa bertemu, tetap kesan terindah adalah ketika kami semua berkumpul bersama di SMA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s